Teologi Agama-Agama
BERAGAMA
DI INDONESIA YANG PLURAL
Pendahuluan
Tidak
ada Perdamaian tanpa Perdamaian Agama, Tidak ada Perdamaian Agama
tanpa
Dialog Agama
(Hans
Kung)
Agama-agama
di dunia ini mengajarkan iman akan Tuhan sebagai yang Maha Kasih dan pemberi
rahmat kepada manusia. Namun, dalam perkembangannya, agama justru menjadi media
untuk menciptakan konflik dan permusuhan antar sesama umat manusia. Jika
demikian, maka tidak salah apabila kemudian muncul pertanyaan; apakah agama
yang menjadi sumber adanya konflik dan permusuhan itu? atau sebenarnya model
beragama manusia yang menjadi sumber adanya konflik dan permusuhan dengan
mengatasnamakan Tuhan?
Kemajemukan
adalah kenyataan yang tidak dapat dielakkan lagi dalam kehidupan. Indonesia
adalah negara yang sangat majemuk. Kemajemukan itu seharusnya diterima sebagai
anugerah bagi bangsa Indonesia. Menurut
Litaay minimal ada delapan aspek sebagai kenyataan Indonesia yang serba
majemuk, salah satunya adalah kemajemukan beragama. Kemajemukan beragama
merupakan kenyataan dimana ada enam agama besar yang diakui negara, beserta
begitu banyak agama asli Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.
Masalah serba majemuk dalam beragama tidak berhenti hanya disitu saja. Tetapi
dalam agama-agama yang begitu banyak didalam agama itu sendiri teradapat banyak
aliran-aliran atau denominasi-denominasi. Kenyataan ini benar menegaskan bahwa
kehidupan beragama di Indonesia sangat majemuk.
Jika
hanya melihat sajian kenyataan bahwa kehidupan beragama di Indonesia adalah
kenyataan yang sangat majemuk, hal tersebut belumlah cukup untuk menjelaskan
bagaimana wajah beragama di Indonesia. Kenyataan hidup beragama yang majemuk
tersebut harus juga dilihat bagaimana pola relasi dan interaksi antar
agama-agama yang majemuk itu. Berbicara mengenai relasi dan interaksi, secara
langsung akan menyinggung bagaimana kehidupan sehari-hari antar elemen-elemen
agama. Elemen-elemen itu mencakup ajaran, ritus, dan yang terpenting adalah
pemeluk.
Suatu
hal yang sangat menyedihkan ialah kenyataan lapangan menunjukan hubungan
sehari-hari antar elemen agama itu masih jauh dari kata harmonis. Agama kembali
lagi menjadi sumber masalah bagi manusia dalam kehidupan bersama. Bahkan yang
paling parah agama di Indonesia juga menjadi sumber konflik antar golongan.
Golongan terbentuk dari personal-personal, sehingga tentu masalah agama bagi
golongan juga menjadi masalah kemanusiaan. Misalnya kasus kerusuhan 1998-2006
yang dibungkus dalam kasus konflik antar penganut agama Kristen dan agama
Islam, kini menyisahkan trauma yang mendalam didalam masyarakat. Masyarakat
antar kedua golongan agama tersebut hidup dalam kecurigaan satu sama lain.
Salah satu, takut untuk hidup berdampingan dengan yang lain, trauma akibat
jatuhnya korban materi bahkan nyawa yang melayang sia-sia. Bencana kemanusiaan
ini berimplikasi pada disharmoni kehidupan komunal. Jika masyarakat hidup terus
menerus hidup dalam rasa saling curiga dan ketakutan maka masa sistem
masyarakat itu tidak akan lama lagi bertahan. Salah satu pihak yang butuh akan
ketenangan hidup dan keamanan hidup tentu dapat berpindah (tidak lagi memilih
untuk tinggal dengan pihak yang dianggap melukai diri mereka).
Berdasarkan
contoh, penyebab konflik agama oleh karena tiap agama seolah-olah menawarkan
semangat persaingan dari pada kerukunan. Esklusivitas beragama menjadi tembok
pemisah kedamaian antar agama. Contoh sumber masalah diatas dapat muncul tidak
lepas dari klaim kebenaran-kebenaran yang terdapat dalam setiap kitab suci.
Klaim kebenaran tersebut diinterpretasi tidak lepas dari siapa penafsirnya.
Bisa saja yang terjadi bukan kebenaran kitab suci yang menerangi
kepentingan-kepentingan penafsir tetapi justru kepentingan-kepentingan penafsir
yang memperalat kebenaran kitab suci sebagai sumber legitimasi kepentingannya.
Bagaimana seseorang memahami kebenaran-kebenaran dalam kitab-kitab suci dapat
menjadi sumber konflik dan permusuhan atas nama Tuhan di antara sesama umat
manusia.
Indonesia
sebagai negara yang majemuk mau tidak mau masuk dalam kenyataan pluralitas
berada. Kenyataan pluralitas dari kemajemukan Indonesia sangat penting untuk
dilihat dalam bingkai kesatuan yang beda. Menyikapi ide sebelumnya maka peran
agama di Indonesia seharusnya dapat mengawal pluralitas beragama sebagai suatu
perekat sebagai kekuatan dan kekayaan bangsa. Jika perwakilan dari agama-agama
lebih cenderung mengajak umatnya berprasangka dengan penuh kebencian kepada
mereka yang berbeda keyakian, keindonesiaan juga akan terancam. Sebagaimana
yang dinyatakan Parlemen Agama-Agama Dunia tahun 1993 dalam Deklarasi Etika Global:
berulang kali kita melihat para pemimpin dan jemaat agama menghasut agresi,
fanatisme, kebencian bahkan menginspirasi dan melegitimasi konflik kekerasan
berdarah. Karena itu, peran agama menjadi sangat sentral dalam menentukan masa
depan kehidupan bangsa Indonesia.
Landasan Teori
Dialog
adalah merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk mencapai kedamaian
di antara pemeluk agama di Indonesia. Dalam hal ini, kelompok kami menggunakan “model
pendekatan” yang telah dipaparkan Paul F. Knitter. Yang pertama adalah Model Penggantian yang menyatakan bahwa
hanya ada satu agama yang benar Model ini biasanya digunakan oleh golongan
konservatif dan fundamentalis. Model ini melihat bahwa agama Kristen sebagai
agama yang paling benar dan akan menggantikan semua agama di dunia. Kemudian
ada Model Pemenuhan yang dianut oleh
sebagian besar gereja Protestan yang menyatakan bahwa dimungkinkan adanya
keterbukaan dan dialog antar agama yang saling menyempurnakan. Berikutnya
adalah Model Mutualitas yang mencari
keseimbangan serta melihat adanya relativisme dalam ajaran absolout tiap-tiap
agama. Dan model terakhir yang diperkenalkan oleh Knitter adalah Model Penerimaan. Model Penerimaan ini
memiliki pernyataan yang singkat namun sangat bermakna, “Banyak Agama yang Benar:
Biarlah Begitu”. Dalam hubungannya dengan teologi-teologi lainnya, model ini
berusaha menyeimbangkan dan menghilangkan tembok-tembok pemisah yang ada dalam
setiap agama.
Menurut
kami, Model Penerimaan adalah model dalam berdialog yang tepat digunakan di
Indonesia yang sejatinya merupakan negara yang pluralis. Model Penerimaan
berkembang selama dua dekade terakhir abad ke- 20, model ini sebagai reaksi
terhadap berbagai kekurangan model lain sebelumnya. Model ini merupakan satu
pendekatan terhadap agama-agama lain yang merasa bahwa ia lebih mampu
berkomunikasi dengan cara orang masa kini untuk memahami diri mereka sendiri
dan dunianya. Model ini juga berusaha memperbaiki berbagai sapek dari
teologi-teologi sebelumnya. Model Penerimaan akan mampu melakukan tugas
penyeimbang dengan lebih baik. Hal ini dilakukan tidak dengan menjunjung tinggi
superioritas agama tertentu, tidak juga dengan mencari sesuatu yang sama yang
membuat semua agama valid, tetapi dengan cara menerima realita keberagaman dari
semua agama.
Untuk menggambarkan bagaimana memandang
hubungan antara agama-agama, Lindbeck dan Model Penerimaan menggambarkannya
sebagai “kebijakan bertetangga yang baik”. Dalam masyarakat yang
plural seperti di Indonesia, apabila menggunakan Model Penerimaan sebagai model
dalam berteologi akan tercapai suatu agama-agama yang saling menjadi “tetangga
yang baik”. Namun untuk itu, setiap agama perlu mengakui bahwa
seseungguhnya “pagar yang baik menjadikan tetangga yang baik”. Setiap agama
memiliki halaman belakangnya sendiri. Tidaka ada “kesamaan” di antara
mereka. Jadi, untuk menjadi tetangga yang baik, biarlah tiap agama mengatur
halaman belakangnya sendiri menjaga agar bersih dan rapi. Untuk berbicara
dengan sesama agama mereka dinasehati agar melakukannya dari seberang pagar
halaman belakang, tanpa harus melangkah ke halaman lain untuk mencari apa yang
mungkin bisa menjadi kesamaan mereka.
Tugas yang perlu dilaksanakan oleh umat
Kristen adalah menjelaskan diri sendiri sebagai umat Kristiani, bukan mencari
“Kristus anonim” atau satu yang nyata di dalam agama-agama yang lain. Biarkan
tetangga kita mengenal siapa kita, biarkan apa pun yang ada dalam pikiran
mereka tentang kita, bagaimanapun respon mereka, apa pun kesamaan yang mereka
temukan, inilah asas menjadi tetangga yang baik. Tetapi untuk melaksanakan itu
semua, kita benar-benar harus hidup sesuai Injil, dengan serius agar para
tetangga dapat melihat siapa kita dalam keseharian kita, bukan hanya tutur kata
kita saja.
Dengan pendekatan terhadap agama-agama
seperti ini merupakan fondasi terbaik yang mungkin bagi terlaksanya dialog.
Model Penerimaan ini tidak menggebu-gebu dalam mendorong umat untuk berdialog
seperti halnya Model Mutualitas. “Tidak
adanya satu fondasi bersama merupakan kelemahan” dari Model Penerimaan terhadap
dialog, “namun ini juga merupakan kekuatan. Karena dengan demikian setiap umat
tidak mau menduga apa yang ada dalam hati semua agama. Menurut Model Penerimaan
tujuan dialog antar agama bukan untuk membangun persekutuan yang lebih besar di
antara agama-agama, tetapi untuk mempertahankan perbedaan mereka dan belajar
darinya.
Dalam makalah ini, kelompok kami
mengambil suatu pokok yang menjadi penting untuk didialogkan adalah bagaimana
agama itu dapat bermanfaat bagi masyarakat. Misalnya masalah sosial merupakan
suatu masalah bersama yang perlu untuk didialogkan di antara masing-masing
pemeluk agama. Contoh masalah sosial adalah kemiskinan, karena kemiskinan tidak
merupakan kemiskinan suatu denominasi agama tertentu. Kemiskinan bukanlah
menjadi masalah salah satu agama. Kemiskinan adalah masalah bersama yang perlu
diselesaikan bersama-sama. Dari masalah ini sebenarnya masing-masing agama
dapat berdialog. Dan hal-hal seperti inilah yang perlu didialogkan pada masa
kini. Sekarang bukan lagi jamannya untuk mempermasalahkan iman ataupun dogma
dari masing-masing agama yang ada di Indonesia.
Namun
kelompok tetap menyadari bahwa realitanya tidak semudah yang disajikan dalam
ide-ide cemerlang diatas. Tetap ada tantangan atau hadangan yang membuat
kesempatan dialog antar agama menjadi yang sulit untuk diwujudkan. Minimal ada
beberapa sebab: Pertama, adanya
keengganan pihak lain untuk terbuka dan menerima pihak yang ingin berdialog. Kedua, terdapat ketidakjujuran atau
kepura-puraan dalam berdialog hanya untuk mencari kelemahan pihak lain. Ketiga, adanya rasa takut terhadap
dialog dimana ketakutan itu didasarkan pada pemikiran bahwa dalam dialog adalah
usaha untuk melakukan konversi agama. Tiga aspek penghambat ini hanyalah
beberapa sampel kecil yang muncul. Tentu masih banyak faktor-faktor lainya yang
masih dapat dipikirkan lagi bersama. Poin penting untuk disadari adalah apabila
pola penerimaan yang Knitter ajukan ingin diterapkan, maka sikap-sikap diatas
sangat perlu untuk dieliminasi terlebih dahulu. Jika diantara umat beragama
masih ada keengganan untuk terbuka dan saling curiga tentu sangat sulit untuk
menjadi tetangga yang baik tersebut.
Memang
gerakan ekspansif agama-agama lain yang sibuk mencari umat yang baru meresahkan
bagi agama Kristen. Akan tetapi sesungguhnya umat Kristen atau dalam hal ini
Gereja tidak perlu takut untuk kehilangan Jemaat. Gereja tidak perlu menuduh
pihak-pihak lain ingin mencuri Jemaatnya. Hal yang perlu dilakukan gereja dalam
menyikapi realita yang dianggap sebagai ancaman tersebut ialah dengan memperbaiki
pelayanan gereja itu sendiri. Jika gereja tidak lagi mampu menjadi alat yang
dapat memberdayakan jemaatnya atau bahkan tidak lagi mampu memberikan solusi
masalah kehidupan jemaat, jangan heran apabila jemaat “berpindah hati.”
Kesimpulan & Penutup
Berangkat
dari pemahaman diatas maka kami menyimpulkan sesungguhnya dewasa ini yang
menjadi hal terpenting ialah bukan lagi
mencari agama mana yang paling benar, akan tetapi bagaimana agama itu berguna
bagi kemanusiaan. Sebab seperti pembahasan sebelumnya tidak ada kemiskinan
agama yang ada ialah kemiskinan bagi manusia siapapun. Tidak ada kemiskinan
Kristen atau kemiskinan Islam saja, tetapi jika miskin siapapun dia atau
agamanya tetap saja miskin. Menyadari ini agama seharusnya membangun dialog
untuk bagaimana bersama-sama menjadi agama yang berguna bagi kemanusiaan.
Suatu
kasus konkrit ialah dialog yang menerima telah dilakukan rekan-rekan STT
Cipanas yang mana mereka bersama dengan rekan-rekan Muslim melakukan program
bimbingan belajar bagi masyarakat. Lalu kasus lainya dimana rekan-rekan
Fakultas Teologi UKAW di Kupang yang selalu melakukan diskusi dengan
saudara-saudara dari agama Katholik dan Islam untuk bagaimana membangun
kehidupan bersama yang harmonis. Fakultas Teologi UKIT YPTK melakukan pekan
pertukaran pelajar dengan STAIN dan STFSP. Juga rekan-rekan dari Fakultas
Teologi UKSW yang tiap tahun melakukan Live
in di Pesantren dan bahkan pernah makan bersama satu piring dengan
santriwan dan santriwati.
Selain
kasus dari mahasiswa diatas ada juga sebuah kasus dimana agama menjadi kunci
yang dapat meningkatkan taraf kehidupan masyarakat. Dusun Jelok desa Nusantara
Kabupatern Wonosari di Jogjakarta adalah kenyataan brilian bagaimana agama
dapat menjadi meningkatkan taraf kehidupan masyarakat. Di dusun tersebut para
pemimpin agama bersatu untuk membangun sebuah jembatan yang membuka akses ke
dusun yang sebelumnya terisolir itu. Padahal usaha sebelumnya masyarakat
setempat telah meminta bantuan pemerintah untuk membangun jembatan bagi mereka.
Namun pemerintah tidak merealisasikan permintaan itu dengan alasan tidak
memiliki anggaran. Selanjutnya tanpa terus menggantungkan harapan pada
pemerintah saja, pemimpin agama yaitu Pendeta dan Kyai yang menjadi pelopor
untuk mendorong masyarakat bersama-sama membangun jembatan. Jembatan itu membuka
akses ekonomi bagi dusun tersebut bahkan setelah ada jembatan tersebut, dusun
Jelok menjadi tujuan wisata. Tentunya semua contoh kasus diatas menunjukan
bagaimana keharmonisan dalam kebersamaan dapat menghasilkan kenyataan yang
indah. Kenyataan yang indah dari kehidupan yang damai itu tentunya tidak akan
terwujud tanpa adanya sikap yang saling menerima.
Sumber
Pustaka
Knitter,
Paul. Pengantar Teologi Agama-agama, Yogyakarta:
Kanisius, 2008
Mesach,
Thobias. Bahan-bahan Kuliah Teologi Agama-Agama: Fakultas Teologi, UKSW,
2012.
Litaay,
Flip. Pemikiran Sosial Johanes Leimena
tentang Dwi Kewarganegaraan: Fakultas Teologi,
UKSW,
1995.
Post a Comment for "Teologi Agama-Agama"